KAMI (BUKAN) JONGOS BERDASI
J.S. Khairen
(Penerbit: Grasindo)
Kisah sekumpulan orang yang bersahabat dan terkumpul dalam sebuah group WA, yakni Arko, Randi, Gala, Ogi, Juwisa, Lira, dan Sania. Masing-masing mereka memiliki mimpi dan jalan hidup yang berbeda. Satu yang sama dari mereka, yakni kampus UDEL. Arko, Gala, Randi, Ogi, Juwisa, dan Sania merupakan alumni Kampus UDEL. Namu, Arko dan Ogi tak sempat mencicipi wisuda dan medapatkan ijazah dari kampus UDEL lantaran tak sempat menyelesaikannya sementara kampus UDEL sudah keburu bubar. Lira, adalah dosen mereka kala di kampus UDEL sekaligus merupakan anak pemiliknya.
Sania, anak penjual sayur yang bermimpi menjadi seorang diva. Meskipun begitu, ia mencoba untuk realistis dengan tetap berusaha menghidupi dirinya sendiri dengan bekerja sembari tetap mengejar mimpinya. Ibunya, adalah orang yang selalu mendukung Sania di tengah keterbatasan hidup mereka. Sementara babe Sania …. Ya, begitu. Seolah untuk mengimbangi sikap ibunya yang selalu lembut dan pengertian, babe Sania bersikap sebaliknya. Tak jarang, dan bahkan masuk kategori sering babe Sania marah dan mengomelinya. Bahkan saat beliau sedang sakit sekalipun. Bekerja di Bank EEK ternyata tak membuat kehidupannya sementereng yang orang bayangkan. Apakah semua karena kemalasannya ataukah ada faktor lain? Hingga akhirnya karir Sania berakhir di Bank EEK. Namun, ternyata ini bukanlah akhir dari kehidupannya.
Arko. Ia nyaris tak memiliki gelar karena sibuk mengejar impiannya di luar negeri untuk menjadi fotografer berkelas. Apakah ia sukses di sana? Nyatanya, foto-foto yang menarik perhatian audiensnya justru adalah foto-foto tentang Indonesia. Walaupun akhirnya ia kembali. Meskipun ia awalnya tak tahu untuk apa. Untuk amaknya kah, sahabat-sahabatnya, atau untuk dirinya sendiri? Impiannya untuk berkarir di luar negeri belum juga padam.
Juwisa, mungkin adalah tokoh yang paling tragis perjalanan menuju impiannya. Seorang perempuan sederhana lulusan kampus UDEL yang tak memiliki nama bermimpi meraih beasiswa untuk melanjutkan studi S2. Niatnya sesungguhnya mulia. Selain mengangkat ekonomi keluarga, ia ingin menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Cerita tragisnya ternyata membawanya pada apa yang selama ini diimpikannya.
Lira, sama saja. Meskipun ia seorang dosen yang selalu punya kata dan cara memotivasi, jalannya pun selalu mudah untuk meraih apa yang ia ingini. Tak hanya masalah keluarga, ia pun harus menyelesaikan masalah dalam karirnya. Pada akhirnya, justru para mantan mahasiswanyalah yang menyadarkannya. Kata-kata dari mereka yang sedikit banyak memberinya petunjuk. Bukan karena mereka sok pintar, tapi Lira yang memintanya. Ternyata, ia memang tak sempurna.
Randi, seorang wartawan yang bermimpi punya acara sendiri. Berbagai ikhtiar ia lalui. Nyatanya, ada sesuatu yang akhirnya ia sadari. Perjalanan membawanya pada sesuatu yang mungkin tak pernah ia bayangkan, bahkan tak pernah hadir dalam mimpi apalagi terbersit dalam hati. Sungguh, hidup ini memang misteri.
Gala. Hm, sungguh lebih beruntung mungkin hidupnya. Meskipun keberuntungan itu tergantung dari susi mana kita melihatnya. Terlakhir dari keluarga berada. Di saat yang lain sedang asik menikmati waktu sendiri, Gala telah menemukan jodohnya. Namun, ternyata memang hidup tak akan begitu mulusnya. Ia tetap harus berjuang meskipun ia orang kaya. Impiannya tak begitu saja menjadi nyata. Meskipun pada akirnya impian itu menemukan jalannya.
Ogi, yang memilih berkarir di luar negeri meskipun tanpa ijazah S1 diam-diam menggenggam kesuksesannya. Ogi yang dulu nyaris bunuh diri. Ogi yang adalah mahasiswa DO. Ogi yang merupakan satu-satunya mahasiswa di kelasnya yang mengangkat tangan ketika ditanya “Siapa yang merasa bodoh di kelas ini?”
Jalan hidup memang tak ada yang tahu. Kadang ia berliku dan kadang kamu tak selalu maju. Namun, ikhtiar dan impianmu pasti akan menemukan titik temu. Tuhan itu tak hanya adil, Dia Maha Adil dan tak akan pernah sedikitpun menyiakan usahamu. (Red, 27-02-2026)